MENGAPA PROFESI ARSITEK BELUM DIAKUI PENUH SEPERTI DOKTER

“Belum diakui penuh

Sebetulnya tidak sangat berbeda dari profesi-profesi lain yang semula belajar dari praktik kehidupan masyarakat, seperti ilmu ketabiban. Para sinsei di timur, timur tengah, dan barat belajar lewat proses magang dari para guru dan suhu ditengah masyarakat. Baru kemudian datanglah fakultas-fakultas kedokteran pada perguruan-perguruan tinggi formal. Ini sangat berhubungan dengan sifat dan proses birokratisasi juga yang tak terelakkan dalam masyarakat yang semakin canggih pengorganisasiannya. Tetapi, dokter sudah (terpaksa) dihargai masyarakat. Arsitek belum. Orang sakit berakal sehat atau terpelajar datang ke

dokter tidak dengan tuntutan minta pil kapsul ini, suntikan itu, mendikte si dokter obat apa yang harus diberikan agar dia sembuh.

Tetapi kepada arsitek orang datang dengan seperangkat permintaan dan pendiktean sesuka selera. Harus seperti gedung ini dari Amsterdam, minta jendela seperti di Hongkong, harus pakai tiang ini dari Yunani dan harus meniru bentuk-bentuk yang “tidak kalah dengan” Singapura dan seterusnya. Arsitek bahkan dianggap lebih rendah daripada dukun, karena kepada dukun sekalipun orang tidak mendiktekan resep….. ”

(Arsitek _ oleh Y.B. Mangunwijaya

Kompas, 16 September 1993)

Profile Romo Mangun (Silahkan Klik)

Mengapa seorang dokter “terlihat” lebih profesional dibandingkan Arsitek?

DARI SEGI PRODUK YANG DIJUAL PASKA KONSULTASI:

Coba bandingkan ke-3 jenis obat-obatan berikut ini:

1. Bodrex, Puyer, Sana Flu, Koyo, Woods, dll. (Type A)

2. Paracetamol, Amoxicillin, Antalgin.(Type B)

3. Transpulmin, Hydrocortisone, Chlorampenicol, Infus, Obat jenis suntikan, dll (Type C)

Produk Type A:

– Dijual bebas dipasaran

– Hampir semua lapisan masyarakat mengerti obat Type A karena periklanan terdapat dimana-mana, koran, radio, dan televisi

– Didalam kemasan, tercantum: cara penggunaan, indikasi, dan peringatan “Apabila dalam 3 hari tidak berkurang sakitnya silahkan menghubungi dokter”. Sehingga peran dokter dalam penggunaan obat-obatan jenis A sangat minim.

– Harga Produk relatif murah dan terjangkau

Produk Type B:

– Dijual bebas dipasaran (lingkup Apotek), tetapi jarang terdapat di warung-warung atau toko.

– Hanya kalangan tertentu (terpelajar) yang mengerti jenis obat-obatan Type B

– Orang yang membeli sudah dipastikan adalah orang yang sudah mengerti cara penggunaan & indikasi.

– Tidak ada periklanan dalam Produk B. Konsumen hanya mengerti setelah pergi ke dokter atau mendapatkan informasi dari rekannya.

– Harga Produk relatif murah dan terjangkau

Produk Type C

– Hanya ada di Apotek yang melayani resep dokter

– Hanya dokter yang mengerti keberadaan obat Type C karena obat jenis ini tidak pernah di iklankan, tetapi ditawarkan langsung dari Pabrik Farmasi melalui perantara Medical Representative

– Hanya dokter yang berhak memberikan cara penggunaan dan dosisnya (Walaupun perawat atau pihak Apotek juga mampu melakukannya)

– Harga produk relatif lebih mahal

Dari produk paska konsultasi ini dapat dilihat peran media informasi sangatlah penting untuk menjaga kerahasiaan produk tertentu, sehingga tidak ada pilihan bagi pasien jika menggunakan produk Type C harus atas petunjuk dokter. Dalam produk Type C pasien “ketergantungan” akan informasi dari dokter. Dokter yang Maha Tau dalam pemberian dosis dan keberadaan obat tersebut.

Bagaimana dengan dunia Arsitek?

– Rumah type 36, 27, 21 (Type A)

– Rumah type 36 – 200 (Type B)

– Rumah mewah, Rumah unik, Public Relations (Type C)

Jika ditinjau dari segi,

Periklanan: Hampir semua produk diatas dapat ditemukan pada brosur perumahan, iklan koran, tabloid Arsitektur, dll

Harga Produk: Type A tentu lebih murah dibanding Type B dan Type C (Jika specnya sama). Dan konsumennya pun berbeda sesuai kemampuan dana yang dimiliki.

Tingkat Kerahasiaan Produk: Untuk type High Class (Type C): Tidak ada, karena semua sudah sering dijumpai di tabloid hingga televisi. Bahkan berbagai macam cara pengerjaan bangunan dikupas tuntas dalam tabloid, cara pembuatan plat lantai, aneka macam dinding, kaca, dst.

Arsitek terdahulu lebih sering dihargai (katanya) dibandingkan arsitek sekarang. Mungkin salah satu jawabannya adalah sekarang keterbukaan informasi tentang Arsitektur lebih luas, lebih sering dijumpai konsumen memilih bukan atas saran dari Arsitek, tetapi karena terlalu sering melihat tabloid, televisi dan media yang menyajikan informasi arsitektur lainnya.

Mampukah konsumen bergantung pada Arsitek jika informasi tentang Arsitektur tidak dibatasi hanya untuk kalangan tertentu, seperti halnya dokter yang mendapatkan informasi dari Medical Representative sedangkan masyarakat awam tidak mengetahuinya.

Selayaknya informasi Arsitektur yang disajikan untuk masyarakat umum adalah Arsitektur untuk Low Class, Rumah Type 36 kebawah (Rumah sederhana), bagaimana membangun dengan tatanan lingkungan yang baik untuk rumah sederhana.

sedangkan untuk kelas Atas (type C) hanya untuk kalangan tertentu, para Arsitek itu sendiri.

DARI SEGI PEMBANTU (ASISTEN) DOKTER

Yang paling terlihat ada 2 bagian:

Apoteker

– Lulusan Sarjana Teknik Farmasi dan mengambil Profesi khusus sebagai Apoteker

– Selayaknya, memberikan resep obat menurut petunjuk dokter

– Memiliki izin usaha jika ingin mendirikan Apotek

Perawat

– Minimal lulusan Diploma Teknik Perawat

– Menangani pasien atas petunjuk dokter

– Hanya sebagian kecil perawat yang beralih profesi menjadi Mantri (Semi Dokter)

Setiap dokter memiliki izin usaha jika ingin membuka Layanan Dokter, apakah itu Umum atau Spesialis. Dan tentunya izin diberikan karena Layanan tersebut sendiri ditangani oleh seorang dokter. Sama halnya dengan para pembantu/asisten dokter, mereka memiliki izin dari instansi terkait.

Para pembantu dokter memiliki pendidikan minimal Diploma.

Sangat jarang dokter juga bertindak sebagai Apoteker bahkan menjadi Perawat.

Bagaimana dengan dunia Arsitek?

Saya membagi menjadi 2 bagian:

Pembantu/Asisten Perencanaan: Drafter, Sipil, Interior Design, dan Landscape Architect

Pembantu/Asisten Pelaksanaan: Mandor, Tukang, Tenaga/laden.

Pembantu Perencanaan (Khusus Drafter):

– Status pendidikan minimal lulusan STM (Atau tidak lulus yang penting bisa gambar)

– Seharusnya, mendapatkan perintah menggambar setelah ada petunjuk dari Arsitek

– Kebanyakan menaikkan derajatnya sendiri menjadi Perencana jika lepas dari Biro Arsitektur

Pembantu Pelaksanaan:

– Status pendidikan terkadang tidak jelas, yang penting bisa baca tulis, mengerti gambar kerja dan punya pengalaman

– Seharusnya, mendapatkan perintah melaksanakan bangunan setelah ada petunjuk dari Pelaksana Utama

– Kebanyakan menaikkan derajatnya sendiri menjadi perencana dan pelaksana jika lepas dari Biro Arsitektur. Terkadang tanpa gambar kerja (perencanaan), pembantu pelaksana bertindak melaksanakan pekerjaan hanya berdasarkan pengalaman.

Dari status pendidikan sangat jelas perbedaan Pembantu Arsitek dan Pembantu Dokter. Seharusnya ada sertifikasi tertentu (yang wajib) bagi para pembantu Arsitek dalam menjalankan tugasnya. Status ini bukan hanya sebagai pelengkap dokumen perusahaan tapi sekaligus sebagai izin usaha.

Dalam hal perencanaan, siapapun dapat bertindak sebagai perencana tanpa disertai izin usaha. Bahkan orang yang bukan arsitek pun (sekarang ini) masih dapat melakukan perencanaan bangunan, termasuk para pemilik bangunan (owner) yang tidak memiliki background Arsitek.

DARI SEGI PARTNER DOKTER (Rekan Sejawat)

Dokter terdiri dari berbagai macam, diantaranya: Dokter Umum & Dokter Gigi (Strata 1)

Dokter umum tidak pernah beralih profesi menjadi dokter gigi dan sebaliknya Dokter Gigi tidak pernah beralih profesi menjadi dokter umum.

Bagaimana dengan dunia Bangunan.

Didalam bangunan ada beberapa perencana yang sejawat (Strata 1), diantaranya: Arsitek, Sipil, Interior Design, Landscape Arsitek, dll.

Sipil, rekan ini harusnya menjadi partner tetapi terkadang berbalik menjadi saingan dalam Perencanaan. Sarjana Sipil dibekali cara menghitung konstruksi bangunan sehingga terkadang mereka mempromosikan dirinya “dapat membuat bangunan lebih irit dibandingkan arsitek”.

Masih banyak ketimpangan antara profesi dokter dan Arsitek. Layanan dokter sering disubsidi pemerintah sedangkan arsitek lebih sering “dipotong”.

Berbagai macam ketimpangan ini jika memang kita dapat memperbaikinya bukan tidak mungkin Arsitek bisa setingkat dengan dokter atau lebih.

Tulisan ini dan diatas sudah direnungkan…… untuk Arsitektur yang lebih maju….

(Dikutip dari forum architerian.net)

PRODUK PASCA KONSULTASI

Setelah berkonsultasi dengan konsumen, arsitek mulai merencanakan kebutuhan ruang yang didasarkan pada fungsinya (furniture, ruang gerak, dll), hubungan kedekatan ruang, pola sirkulasi…. maka lahirlah sebuah desain. Namanya desain pasti punya luasan dan bentuk, atau kata lain “Type”. Dari type ini, bisa digolongkan, design sederhanakah atau lebih. Begitupula dengan bentuk, tergolong sederhana atau rumit.

Jadi sama halnya seperti dokter. Setelah berkonsultasi dokter akan mengeluarkan produk, perawatan jalan atau inap.

Entah produk dokter itu menyembuhkan atau tidak yang terpenting dokter berusaha mengobati untuk menyembuhkan. Arsitek, entah produk itu berjalan sesuai konsep diawal atau tidak namun arsitek berusaha menerapkan konsepnya dapat berjalan sesuai yang diinginkan.

ARSITEK YANG MEMPERTEBAL PENGETAHUAN

Jika informasi hanya sebatas type sederhana, dan ada “konsumen yang membutuhkan keinginan” design lebih dari type sederhana, tentunya ia datang ke Arsitek, orang yang lebih banyak tau akan informasi. Dan tidak akan terjadi owner lebih memilih menggabung type 21 (type sederhana) karena bangunan yang diinginkan lebih dari type sederhana.

Arsitek yang mencari tau dan memperdalam segala macam informasi Arsitektur, bukan konsumen yang mempertebal daftar bacaannya, dan mendiktekannya pada arsitek!

MEDICAL REPRESENTATIVE

Seharusnya informasi yang diberikan media sesuai sasaran yang dituju, kepada tukang? kepada pelaksana? atau kepada arsitek? Cara nge-dak, pemipaan, aneka ragam komponen bangunan (dinding, lantai, ….) dll dibeberkan kepada khalayak umum dengan tujuan apa? Apakah mereka yang nantinya menjalankan cara ngedak, pemipaan atau bahkan menyusun komponen bangunan/mendesign…? Informasi harusnya tepat sasaran kepada siapa yang dituju.

Setiap profesi pasti memiliki “rumah”, tempat berkumpul dan bertukar informasi, yaitu sebuah asosiasi/ikatan. Asosiasi-asosiasi harusnya menjadi sumber informasi. Asosiasi bisa sebagai “Medical Representative”. Berbagai macam informasi masuk ke bagian ini terdahulu, disampaikan kepada pemegang profesi (Arsitek contohnya), dan dilanjutkan dari pemegang profesi kepada konsumen umum dengan cara konsultasi secara langsung.

Informasi merupakan kebutuhan bagi pemegang profesi dan informasi ini pula bisa menjadi daya tarik para pemegang profesi untuk masuk ke dalam “rumah” (namun itu jika informasi ke konsumen umum dibatasi dan tepat sasaran). Jika sudah berkumpul semua penghuni rumah, bukankah lebih enak membicarakan masa depan penghuninya……..

Batasi informasi tepat pada sasaran, jadikan asosiasi menjadi SATU-SATUnya sumber informasi terlengkap untuk dilanjutkan pada pemegang profesi dan dilanjutkan kepada konsumennya….

Pendiktean akan terkurangi & anggota keluarga akan komplit dalam rumah……..

SEBUAH PILIHAN

Jangan berbangga hati jika arsitek kabarnya dapat menyelamatkan banyak nyawa. Dokter juga bisa, 1 orang dokter menyelamatkan 1 nyawa dalam 1 hari, kalo ditotal selama hidupnya pasti lebih dari 1 nyawa dapat ditolong?

Arsitek bisa menyelamatkan banyak nyawa juga sebaliknya. Kesempatan arsitek menyelamatkan banyak nyawa dalam 1 desain (bangunan publik) sangatlah kecil karena order bangunan publik sedikit, namun kesempatan arsitek menyelamatkan banyak nyawa dalam lingkungan sangatlah besar.

Ketika terjadi bencana dalam lingkungan, banyak bangunan bahkan nyawa yang tidak terselamatkan, tanggung jawab arsitek juga bukan? Satu contoh, kasus kebakaran dalam lingkungan padat, sebagian besar rumah bahkan nyawa tidak dapat diselamatkan adalah karena sulitnya akses pemadam kebakaran…..

Semua tergantung kemana pilihan itu ditempatkan…..

Kemana pilihan itu akan diberikan,

Apakah kepada konsumen,

Jika “sanggup” anda pilih arsitek, kalo tidak “sanggup” silahkan pilih pemegang profesi yang lain atau dibawahnya saja…..

Atau pilihan itu ditempatkan kepada Arsitek,

Besar-kecil, mewah ataupun sederhana bangunan anda adalah tanggung jawab arsitek. Kami akan bantu, demi lingkungan yang harmonis dimasa mendatang…….

…… pilihan itu ada ditangan arsitek itu sendiri

ARSITEKTUR ADALAH WARISAN

Karya arsitektur seseorang atau beberapa arsitek adalah karya yang akan berdiri lebih lama bahkan ketika arsitek tersebut telah almarhum.

Sebuah warisan……

Arsitek juga bisa mewariskan lingkungan yang tertata dengan kepeduliannya… atau mewariskan kesemerawutan lingkungan karena ketidakpeduliannya……

Karya arsitektur melahirkan dampak sosial….. dan dampak sosial itu pula akan diwariskan.

ADAKAH TUNTUTAN BAGI ARSITEK YANG GAGAL DALAM RANCANGANNYA

Dokter yang melakukan mall praktek sudah ada tuntutan hukumnya… tapi apakah arsitek sudah ada? Secara moral mungkin ada tapi secara hukum?

Bagaimana jika ternyata Sang Arsitek telah almarhum, dan rancangan bangunannya gagal?

Salah satu contoh, ada bioskop pernah terbakar di Jogja dan semua penontonnya meninggal. Akses masuk dan keluar bioskop jadi satu dan kebakaran ada pada akses tersebut. Jelas, Arsitek disini yang salah. Tapi gimana nasib arsitek tersebut selanjutnya?

Kemudian, jika terjadi kebakaran dilingkungan padat, hanya beberapa rumah dan nyawa yang dapat diselamatkan, tanggung jawab arsitek juga bukan sih? Minimal secara moral-lah…..??

SALAHKAH MENIRU YANG BAIK?

Kita harus melihat kebelakang, sebagai acuan, untuk masa depan yang lebih baik. Jika dulu profesi dokter bermula dari sensei dan tabib, dan sekarang bisa lebih dihargai, kenapa arsitek belum? Apakah salah mencontoh yang baik dari mereka….. ??

Apakah itu sistem informasi, syarat membuka layanan dokter harus berizin, pendidikan minimum para partner pembantu, dll…..

PARADIGMA ARSITEK

Paradigma arsitek dewasa ini memang lebih kepada Arsitek itu mahal….

Bukan arsitek untuk semua….

Pernyataan Romo Mangun diatas, mengibaratkan arsitek lebih rendah daripada dukun lebih karena pola kerjanya yang dapat di dikte, bukan daftar harganya yang bisa dinego/didekte…..

Jika pola kerja tidak dapat di dekte karena sistem informasi yang tepat sasaran, bukan tidak mungkin harga layanan arsitek dapat berjalan sebagaimana semestinya.

RUMAH SAKIT & PUSKESMAS

Saat ini, perhatian pemerintah memang lebih kepada hunian masyarakat (rumah susun, KPR ringan, dll), tapi bukan kepada pemegang profesi yang bekerja untuk tercapainya hunian masyarakat, yaitu Sang Arsitek. Mungkin kita bisa bergerak secara pribadi (swasta) untuk membangun “puskesmas” tanpa subsidi dari pemerintah, melayani masyarakat golongan apapun dengan loyalitas yang tinggi.

Jika lingkungan “berpenyakit” dimasa depan, itu adalah “panen” dari loyalitas yang kita “tanam” sebelumnya. Jangan menjadi arsitek yang gemar gusur-menggusur bangunan, mencegah itu lebih baik daripada mengobati……..

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: